Kafir Itu Teologis Bukan Politis
Salah satu misi besar Rasulullah SAW diutus kedunia adalah untuk menyempunakan akhlak manusia. Dengan mengajak manusia untuk mengenal siapa itu Sang Pencipta, dan mengetahui untuk apa diciptakan, serta memelihara hubungan dengan seluruh manusia dengan menempatkan sesuai dengan porsinya. Sehingga kaum muslimin tidak salah dalam menempatkan sikap tegas dan lembut dalam persoalan lini kehidupan.
Rasulullah SAW sangat bijak dan adil dalam beragama. sebagai contoh disaat pemuka Qurasy yang musyrik ingin berunding dalam persoalan ibadah. Dengan penawaran bahwa mereka (pemuka Qurays) ingin menyembah Allah dengan syarat Nabi Muhammad juga menyembah Tuhan-Tuhan mereka. Adanya penjadwalan dalam beribadah, atau lebih jelasnya bergantian Tuhan setiap tahunnya (selang seling). (Tafsir al Qurthubi 225/20)
Jawaban Rasulullah SAW sangat mengagetkan delegasi Qurays dengan pernyataan “aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah”. Hal ini beliau ulangi untuk kedua kalinya agar delegasi tersebut betul paham apa yang beliau inginkan “dan aku tidak akan pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak akan pernah menjadi penyembah apa yang aku sembah”. Terakhir beliau memberikan kata penutup yang sangat tegas “untukmu agamamu, dan untukku agamaku”. Itulah isi dari Surat Al Kafirun yang kita kenal.
Dalam persoalan Muamalah yang tidak berkaitan dengan aqidah beliau sangat rendah hati, orang yang penuh kasih sayang, selalu memenuhi janji. Terlihat pada saat pertama kali datang di Yastrib menjalin hubungan dengan orang-orang Yahudi dalam bentuk saling bersilaturrahim. Sehingga orang Yahudi pun membalasnya pula dengan perhormatan serta mengadakan tali persahabatan. Persahabatannya dengan pihak Yahudi dan persahabatan Rasulullah SAW semakin hari semakin erat dan dekat. (sejarah Muhammad Husein Haikal hal 202).
Sangat tepat jika ada orang yang tidak sesuai keyakinannya dengan Islam, layak diberi label KAFIR. Karena dalam makna KAFIR secara terminologi adalah orang-orang yang tidak beriman kepada Keesaan Allah SWT dan tidak membenarkan Risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. (Mu’jam Al Lughoh Al Arbiyyah Al Muasiroh, 3/1943).
Jadi sekali lagi, status kafir itu sangat teologis bukan politis. Karena Rasulullah tegas menolak delegasi Musyrik Qurays karena unsur teologis bukan politis. Dan para ulama tidak ada yang berbeda pendapat dalam persoalan ini.
Dalam konteks Pemimpin Islam, minimal ia bisa menjadi imam di dalam sholat. Sebagai contoh, suami mampu menjadi imam sholat bagi keluarganya, Kyia mampu menjadi imam sholat bagi santrinya. Jika sekarang kita melihat ada sejumlah kaum muslimin di Jakarta dan Indonesia pada umumnya mendukung AHOK. Berarti mereka siap untuk menjadi makmun AHOK di dalam sholat. /*Fadlih Rifenta.


