Humanisme: Manusia & Tragedi Agama

Humanisme: Manusia & Tragedi Agama

Oleh: Muhammad Taufiq Husni

Humanism menurut oxford dictionary adalah “A rationalist outlook or system of thought attaching prime importance to human rather than divine or supernatural matters”. Secara umum, kata humanism terdiri dari dua suku kata, Human (Manusia) dan Isme (ideologi). Secara istilah, humanisme memiliki beberapa defenisi yakni :”(1) Aliran yang bertujuan menghidupkan rasa perikemanusiaan dan mencita-citakan pergaulan hidup yang lebih baik; (2) paham yang menganggap manusia sebagai objek studi terpenting; (3) aliran zaman Renaissance yang menjadikan sastra klasik (dalam bahasa Latin dan Yunani) sebagai dasar seluruh peradaban manusia. Berdasarkan defenisi diatas dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa humanism adalah ideologi yang menjadikan manusia sebagai ukuran utama dalam berbagai aspek kehidupan.

Jika bertolak pada sejarah, maka dapat ditemukan beberapa untaian sejarah yang menyebabkan munculnya ideologi humanisme di Barat. Gerakan humanisme awalnya adalah gerakan yang menuntut manusia untuk berfikir ulang terhadap dogma-dogma agamis dan selanutnya berlepas darinya. Dogma agamis dalam kajian ini ialah doktrin yang dikeluarkan oleh gereja sebagai satu-satunya lembaga otoritatif yang berhak menentukan hidup dan kehidupan masyarakat Barat kala itu. Mereka merasa bahwa campur tangan gereja sudah menghalangi hak dan kebebasan mereka dalam menjalani hidup. Sejak periode awal, masyarakat Barat menerima secara dogmatis tafsiran gereja tentang Bible, namun setelah pengetahuan mereka mencukupi dan menganggap itu bisa menggantikan kebutuhan terhadap agama, maka upaya menghilangkan otoritas gereja dilakukan secara berkesinambungan. Maka lahirlah kebebasan dimana ukuran kebenaran dan acuan segala sesuatu adalah individu dan manusia itu sendiri.

Humanisme ternyata seumur dengan peradaban Barat. Istilah humanisme muncul pada taun 1808 di Italia dengan sebutan Umanista. Semangat mengkaji filsafat, seni, dan sastra klasik sangat tinggi. Inilah yang menyebabkan keyakinan mereka terhadap kemampuan individu semakin menguat. Keyakinan tersebut terus berlanjut sampai pada taraf kemampuan menentukan kebenaran. Tokoh yang pertama kali membincang masalah ini adalah Kardinal Pelagius (354-420). Ialah yang mulai berwacana bahwa manusia mempunyai kapasitas untuk berkemabang sendiri tanpa Tuhan. Takaran untuk mengetahui baik dan buruk cukup dengan akal semata (Zarkasyi, 2012: 78).

Perkumpulan humanis bernama the british humanist association tidak lagi memakai sifat religious. Hal ini berujung pada pengakuan bahwa manusia bukan lagi sebagai makhluk Tuhan, tapi merupakan hasil evolusi. Tidak ada kehidupan sesudah mati. Prinsip hidup humanis sangat sederhana, makan, minum, dan kawin sepuasnya karena besok bisa jadi akan mati. Lakukanlah apa saja, seks, homo, lesbi, kawin-cerai, bunuh diri, aborsi, euthanasia, dan semua itu adalah hak asasi manusia, dan tidak ada yang berhak mencampuri urusan pribadi manusia (Zarkasyi, 2012: 77).

Kemudian apakah Barat dapat dikatakan maju dengan menjunjung humanisme? Secara fisik memang dapat dilihat bahwa Barat merupakan negara yang bersih, dan teratur, namun semua itu bukanlah alasan mutlak untuk mengatakan Barat sebagai Negara maju. Sebab disamping keteraturan itu juga ada prostitusi bebas, seks bebas di tempat umum, dan banyak masalah lainnya yang jarang sekali menjadi tolak ukur untuk menilai kehiduan Barat. alhasil, banyak orang timur yang “terlalu terpesona” dengan barat dan mencoba menerapkan ideology mereka di Timur. Padahal latar belakang peradaban Timur tidak sama dengan Barat. Maka memunculkan kerancuan dan ketidakstabilan yang justru didapatkan masyarakat timur ketika mengikuti peradaban Barat.

Dapat disimpulkan bahwa ideologi humanisme yang sampai saat ini berkembang di Barat adalah kegagalan agama gereja dalam menaungi masyarakatnya. Kekuasaan gereja sangat otoriter ditangan para paulus. Berbeda dengan Islam, yang tanpa adanya humanisme, agama tetap bisa menjaga dan menaungi hak-hak muslim dan non-muslim tanpa ada satu pihak pun yang dirugikan.

Wa Allah-u a’lam.

 Muhammad Taufiq Husni a.k.a Mas Opik, Pecinta tasawuf dan syair cinta.

TENGAH adalah laman berbagi ide para peminat pemikiran yang peduli terhadap kejumudan berwacana dengan memegang prinsip “jalan tengah”

You might also like