Kafir: Makna dan Penyimpangannya
Oleh Miftah Ahmad
Sebelum memulai tulisan ini saya ingin menegaskan bahwa judul tulisan ini adalah sebuah ketegasan worldview saya. Sebagaimana ungkapan yang sering kita dengar “bagaikan air di atas daun talas”. Air di atas daun talas selalu terombang ambing dengan ketidak pastiaan. Ketika daun miring ke kiri maka air di atasnya pun demikian begitu juga sebaliknya. Ini adalah sebuah tulisan agar kita kembali mempertegas apa worldview kita. Apa cara pandang hidup kita. Jika kita Muslim maka jadilah muslim yang kaafah bukan sebagai muslim pengekor ataupun Muslim yang lupa akan keIslamannya. Upaya inilah yang saya lakukan melalui sebuah coretan bertuliskan “Kekafiran : Makna dan Penyimpangannya”.
Arti yang “sengaja” dipincangkan
Kata kāfir (bahasa Arab: كافر kāfir; plural كفّار kuffār) secara harfiah berarti orang yang menyembunyikan atau mengingkari kebenaran. Dalam terminologi kultural kata ini digunakan dalam agama Islam untuk merujuk kepada orang-orang yang mengingkari nikmat Allah (sebagai lawan dari kata syakir, yang berarti orang yang bersyukur). kāfir berasal dari kata kufur yang berarti ingkar, menolak atau menutup. Pada zaman sebelum Agama Islam, istilah tersebut digunakan untuk para petani yang sedang menanam benih di ladang, menutup/mengubur dengan tanah. Sehingga kalimat kāfir bisa dimplikasikan menjadi “seseorang yang bersembunyi atau menutup diri”.
Menurut syariat Islam, manusia kāfir yaitu: Mengingkari Allah sebagai satu-satunya yang berhak disembah dan mengingkari Rasul Muhammad SAW sebagai utusan-Nya. Di dalam Al-Qur’an, kitab suci agama Islam, kata kafir dan variasinya digunakan dalam beberapa penggunaan yang berbeda:
- Kufur at-tauhid (Menolak tauhid): Dialamatkan kepada mereka yang menolak bahwa Tuhan itu satu. “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman”.(Al-Baqarah ayat 6).
- Kufur al-ni`mah (mengingkari nikmat): Dialamatkan kepada mereka yang tidak mau bersyukur kepada Tuhan. “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku (la takfurun)”.(Al-Baqarah ayat 152).
- Kufur at-tabarri (melepaskan diri). “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka Berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu (kafarna bikum)…”(Al-Mumtahanah ayat 4).
- Kufur al-juhud (Mengingkari sesuatu) “..maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar (kafaru) kepadanya”.(Al-Baqarah ayat 89).
- Kufur at-taghtiyah (menanam/mengubur sesuatu) “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani (kuffar)”.(Al-Hadid ayat 20).
Dari berbagai makna kafir yang telah dipaparkan tentunya penyebutan kafir tidak bisa dilepaskan dari syari’at Islam. Hal yang sangat naif jika ada yang ingin melepaskan konsep kafir dari ad-dien Islam. Pemisahan tersebut menunjukkan kedangkalan pengetahuannya akan ad-dien Islam. Jika kita melepas pengertian tersebut hal itu sama saja dengan kita memotong tangan kita untuk berdiri sendiri. Sebuah kenaifan dan kemustahilan. Hal seperti itu hanya bisa dilakukan oleh manusia yang tidak menggunakan logikanya secara benar.
Lantas Siapakah Kafir itu?
Setelah kita bisa mendefiniskan apa itu kafir. Kita tentunya akan bisa mengetahui siapa itu kafir dari berbagai pengertian yang telah disebutkan sebelumnya. Dari pengertian sebelumnya kita mengetahui ada lima jenis kafir pertama, Kufur at-tauhid golongan ini mereka para pengingkar ke-tauhid-an Allah, hal ini tentunya mereka yang tidak beragama Islam. Kedua, Kufur al-ni`mah golongan ini adalah para pengingkar nikmat yang telah diberikan oleh Allah yaitu fitrah Islam, golongan ini tentunya mereka yang menyimpang dari fitrah Allah berarti mereka yang tidak beragama Islam. Ketiga, Kufur at-tabarri mereka adalah orang yang melepaskan diri dari ketentuan Allah yaitu hanya menyembah kepadaNYA. Keempat Kufur al-juhud golongan ini adalah mereka yang mengingkari Allah. Kelima, Kufur at-taghtiyah golongan ini adalah mereka yang mengubur hatinya dari petunjuk Allah.
Dari berbagai golongan di atas bisa kita simpulkan bahwa manusia kafir adalah mereka yang mengingkari Allah. Pengingkaran ini berarti mereka tidak mau mengikuti jalan yang telah ditetapkan oleh Allah melalui risalah NabiNYA Muhammad SAW. Jadi menjadi hal yang sangat aneh jika ada orang selain beragama Islam tetapi mereka tidak mau disebut sebagai kafir.
Apakah hanya Islam?
Jika kita membuka berbagai macam yang ada di dunia ini. Maka kita akan menemukan berbagai istilah yang dialamatkan bagi orang yang tidak mengikuti agama tersebut. Sebagaimana kita melihat di dalam injil ada golongan “domba-domba tersesat”. Mereka adalah golongan yang tidak mengikuti ajaran kristen. Jadi bagi mereka umat Islam adalah domba-domba yang tersesat. Begitu juga di dalam agama yahudi ada penyebutan “orang yang terpilih” maksud dari kalimat ini adalah orang yang mengukiti agama Yahudi. Jadi bisa kita artikan selain agama yahudi bukanlah orang yang terpilih atau bukan manusia pilihan atau manusia kelas dua. Begitu juga di berbagai agama yang ada di dunia ini.
Maka masyarakat modern ini menjadi sangat naif dan dangkal cara berpikirnya. Mereka hanya mengedepankan apa yang diyakininya tanpa Ilmu. Maka menjadi hal yang aneh ketika ada non-muslim tidak mau dipanggil kafir. Akan tetapi di dalam injil mereka menyebut domba yang tersesat bagi orang non-kristen. Ada kerancuan berpikir ketika umat Islam mengatakan kafir lantas dikaitkan dengan SARA, akan tetapi ketika kristen mengucapkan domba yang tersesat itu bukanlah sebuah SARA. Hal ini terkesan ada standar ganda dalam pergaulan. Dan pada akhirnya umat Islamlah yang selalu disudutkan. Semoga kita bisa arif dan bijaksana dalam menyikapi permasalahan ini.
Wa Allah-u alam
Miftah Ahmad, Wong Solo, Traveler, Pendaki, Penulis yang berjiwa “bebas”


