Tjokroaminoto dan Sosialisme

Tjokroaminoto dan Sosialisme

Tjokroaminoto memiliki nama lengkap Haji Omar Said Tjokroaminoto atau sering disingkat HOS Tjokroaminoto adalah seorang guru bangsa. Ia memiliki banyak murid yang kelak di kemudian hari menjadi tokoh pergerakan dalam masa penjajahan, di antaranya Soekarno, Kartosuwiryo, Semaoen dan lainnya. Ia juga dikenal sebagai pendiri Sarekat Islam. Sarekat Islam adalah persarikatan yang bergerak melawan penindasan dan penjajahan.

Seiring perjalanannya, Sarekat Islam terpecah menjadi dua kubu;  kubu Islam dan kubu Kiri. Kubu Islam diwakili oleh Agus Salim dan Abdoel Moeis sedangkan kubu Kiri diwakili oleh Semaoen. Perseteruan kedua kubu semakin memanas sehingga Tjokroaminoto mencoba mendamaikannya, namun akhirnya kubu kiri keluar dari Sarekat Islam dan membentuk persarikatan sendiri yang kemudian menjadi Perserikatan Komunis di India atau Partij der Komunisten in Indie (PKI). Atas dasar inilah beberapa kelompok mengatakan bahwa sebenarnya Tjokroaminoto adalah pendukung paham sosialisme yang diusung oleh partai komunis dan menganggapnya tidak bertentangan dengan ajaran Islam atau bahkan memadukannya.

Dalam bukunya Islam dan Sosialisme, Tjokroaminoto mendefinisikan sosialisme sebagai paham yang berdasarkan pada pertemanan, musahabah atau mu’asyarah dan menjadikannya sebagai anasir pengikat di dalam pergaulan hidup bersama. Paham ini bertentangan dengan paham individualisme yang mementingkan diri sendiri. Paham individualisme ini pada puncaknya adalah kapitalisme yang mendorong penjajahan bangsa Barat atas bangsa Timur. Oleh karenanya sosialisme adalah anti terhadap kapitalisme dan penjajahan.

Menurutnya, sosialisme memiliki beberapa corak. Di antaranya; Social-democratie yang merupakan buah pikiran Karl Marx, Anarchisme, Staatsosialisme dan Akkersocialisme. Namun, Islam juga memiliki coraknya sendiri dalam paham sosialisme. Sosialisme dalam Islam berpijak pada Al Qur’an dan Sunnah yang sudah dipraktekkan oleh Nabi Muhammad dan para Sahabat. Maka dari itu, dalam menjalankan paham sosialisme umat Islam harus merujuk kepada nilai-nilai yang sudah ada.

Nilai-nilai tersebut di antaranya adalah bahwa umat manusia pada dasarnya adalah satu, “kāna an nās ummatan wāhidatan”. Atas dasar nilai ini manusia memiliki hak yang sama dan tidak dibolehkan merampas hak satu sama lain. Atas dasar itu juga manusia memiliki kemerdekaan sehingga seluruh tindak penjajahan baik berupa fisik maupun ekonomi (kapitalisme) harus dilawan.

Nilai-nilai sosialisme dalam Islam juga terdapat dalam ajaran-ajarannya. Di antara ajaran tersebut ialah ajaran untuk menunaikan ibadah haji di mana setiap orang baik pria, wanita, tua, muda, anak-anak, kaya, miskin, raja ataupun rakyat jelata, semuanya memiliki kedudukan yang sama, menggunakan pakaian yang sama dan melakukan ibadah yang sama. Inilah “masyarakat tanpa kelas” yang sebenarnya yang sudah dicontohkan dan diwujudkan oleh Islam, semua manusia sama di hadapan Tuhan. Lebih dari itu umat Islam merupakan saudara di bawah naungan agama dan kemanusiaan sebagaimana diibaratkan oleh Nabi Muhammad bahwa umat Islam seperti satu tubuh, ketika satu organ sakit maka seluruh tubuh merasakannya.

Dalam kepemilikian harta benda, Islam pun mengajarkan nilai sosialisme yaitu bahwa harta benda yang dimiliki umat Islam tidaklah sepenuhnya dimiliki, namun ada hak orang lain di dalamnya. Maka Islam menganjurkan sedekah dan mewajibkan zakat, menentukan orang-orang yang pantas dan berhak menerimanya. Islam juga mengajarkan untuk memperhatikan dan memuliakan keluarga, tetangga dan bahkan tamu yang datang ke rumah. Selain itu Islam mengajarkan untuk berlaku adil terhadap orang yang dipekerjakan, sehingga dalam riwayat yang terkenal Nabi Muhammad mengatakan harus membayar upah sebelum kering keringatnya. Dan masih banyak lagi yang diajarkan dan dipraktekkan oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya.

Di lain pihak, Tjokroaminoto mengkritik paham sosialisme dan diusung oleh bangsa barat. Di antaranya adalah paham sosialisme yang diajarkan oleh Marx. Menurutnya ajaran Marx yang berdasarkan materialisme-historis ini telah menafikan sesuatu yang bersifat metafisika sperti Tuhan, roh, jiwa dan lainnya. Marx mengatakan bahwa ukuran segala sesuatu adalah benda, maka dia telah “menuhankan” benda. Marx juga menganggap bahwa agama adalah kerancuan otak dan hanya menjadi candu bagi masyarakat. oleh karenanya Tjokroaminoto mengatakan bahwa umat Islam harus menolak pandangan sosialisme yang diajarkan Marx, karena dalam Islam, segala sesuatu berasal dari Tuhan dan akan kembali kepadaNya.

Lebih dalam lagi Tjokroaminoto mengkritik pemerintahan Soviet yang dijalankan Lenin berdasarkan paham sosialisme Marx. Tjokroaminoto mengatakan bahwa pemerintah Soviet sama sekali tidak mengindahkan kemerdekaan manusia dan menunjukkan watak imperialis yang menindas setiap keyakinan yang berbeda dengan keyakinannya.dan  itu bukanlah ciri sosialisme yang sejati. Sosialisme yang sejati adalah apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya, berdasarkan agama Islam yang bertujuan mewujudkan tidak hanya kesejahteraan dan keselamatan di dunia, namun juga keselamatan di akhirat.

Maka dari itu, Islam memiliki kadungan tentang paham sosialisme yang sebenarnya. Seorang yang berislam sudah pasti sosialis, maka cukup menjadi Islam pasti akan menjadi sosialis, tanpa perlu mencampuradukkan ajaran Islam dengan ajaran yang lainnya. Wallahu a’lam

TENGAH adalah laman berbagi ide para peminat pemikiran yang peduli terhadap kejumudan berwacana dengan memegang prinsip “jalan tengah”

You might also like