Ideologi Liberalisme
Liberalisme merupakan sebuah sistem, pandangan hidup atau ideologi yang lahir di Barat. Kata liberal berasal dari dari bahasa latin liber yang berarti bebas yaitu suatu keadaan dimana seseorang bebas dari kepemilikan orang lain. Makna bebas kemudian menjadi trend dan sikap dalam masyarakat terpelajar di Barat yang membuka pintu kebebasan berfikir. Berangkat dari makna kebebasan berfikir inilah kemudian berkembang sehingga mempunyai berbagai makna (dikutip dari buku Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, MISYKAT Refleksi Tentang Westernisasi, Liberalisasi dan Islam.).
Dalam konteks sosial liberalisme dipandang sebagai suatu etika sosial yang membela kebebasan (liberty) dan persamaan (equality) secara umum. Sedangkan secara politis liberalisme adalah ideologi politik yang berpusat pada individu, dianggap memiliki hak dalam pemerintahan, termasuk persamaan hak dihormati, hak berekspresi, bertindak dan bebas dari ikatan-ikatan agama ataupun ideologi.
Secara garis besar berdasarkan konteks munculnya, makna liberalisme dapat dibagi menjadi dua. pertama liberalisme ekonomi dan politik; Di bidang ekonomi, gagasan-gagasan Adam Smith disuguhkan untuk membangun sistem ekonomi kapitalis yang menawarkan liberalisasi kegiatan ekonomi bagi setiap orang. Kebijakan ini akhirnya membatasi negara untuk ikut campur tangan dalam kegiatan ekonomi rakyat. Pada prinsipnya ingin menyuarakan hak-hak individu dan kebebasan.
Sedangkan puncak liberalisasi politik terjadi pada abad ke 19 ketika di beberapa negara Eropa paham liberalisme terus menggelinding dalam bentuk ide-ide kebebasan dan gerakan-gerakan revolusioner. Akibatnya banyak raja dan bangsawan Eropa yang kehilangan kekuasaan mereka dan banyak negara berhasil memperjuangkan hak-hak sipil. Akhirnya sejak tahun 1800, para budak diberi hak pilih dan para pekerja memperoleh hak-hak politiknya.
Menginjak abad ke 20 setelah berakhirnya perang dunia pertama, hak kaum perempuan dalam menyampaikan aspirasi dan pendapat di dalam pemerintahan diberikan. Menjelang tahun 1930-an liberalisme berkembang pesat, tidak hanya meliputi kebebasan berpolitik tetapi juga mencakup kebebasan-kebebasan di bidang ekonomi, sosial dan lain sebagainya. Tahun 1941, presiden Franklin D. Roosevelt mendeklarasikan empat kebebasan; yaitu kebebasan untuk berbicara (freedom of speech), kebebasan beragama (freedom of religion), kebebasan dari kemelaratan (freedom from want), dan kebebasan dari ketakutan (freedom from fear). Sedangkan PBB menetapkan sejumlah hak ekonomi dan sosial, disamping hak politik.
Kedua liberalisme keagamaan; merupakan bidang dalam pemikiran atau liberal dalam konteks kebebasan intelektual yang berarti independen secara intelektual, berfikiran luas, terus terang dan terbuka. Kebebasan intelektual dapat disebut juga sisi lain dan juga merupakan aspek yang mendasari dari liberalisme sosial dan politik. Kelahiran dan perkembangannya terjadi sebelum hingga akhir abad ke 18, disebabkan obsesi Barat untuk membebaskan diri mereka dalam bidang intelektual, keagamaan, politik dan ekonomi dari tatanan moral, supernatural dan bahkan Tuhan.
Pada saat itu (1789) terjadilah revolusi perancis yang di dalamnya terdapat kebebasan mutlak dalam pemikiran, agama, etika, kepercayaan, berbicara, pers, dan politik. Konsekuensi dari revolusi tersebut adalah penghapusan hak-hak Tuhan dan segala otoritas yang diperoleh dari Tuhan. Akhirnya agama disingkirkan dari kehidupan publik dan dijadikannya bersifat individual. Agama kristen dan gereja harus dinafikan agar tidak menjadi lembaga hukum ataupun sosial. Ada tiga faktor penting yang melatarbelakangi, mengapa Barat memilih hidup sekular dan liberal; pertama, trauma sejarah, khususnya yang berhubungan dengan dominasi agama Kristen di zaman pertengahan. Kedua, problem teks Bible dan ketiga, problema teologis Kristen. Ketiga problema ini terkait satu dengan lainnya, sehingga memunculkan revolusi perancis.
Ciri liberalisme pemikiran dan keagamaan yang menonjol adalah pengingkaran terhadap semua otoritas yang sesungguhnya, sebab otoritas dalam pandangan liberal menunjukkan adanya kekuatan diluar dan diatas manusia yang mengikatnya secara moral. Oleh sebab itu, awal mula munculnya liberalisme intelektual adalah mencoba untuk bebas dari agama dan dari Tuhan, namun dari situlah lahir dan tumbuhnya liberalisme pemikiran keagamaan yang disebut juga theological liberalism./*Rustamaji


