Feminisme dan Postfeminisme: Perbincangan Awal
Negosiasi Para Ahli
Identifikasikan beberapa pendekatan feminis terhadap budaya popular dari tahun 1960 –an menunjukkan bagaimana hubungan antara feminisme, feminitas dan budaya popular sering bermasalah satu sama lain. Gagasan utama tentang feminisme gelombang kedua dan feministis cultural studies lalu membeberkan bagaimana para feminis mempengaruhi perdebatan dikalangan mereka tentang jangkauan bentuk-bentuk dan praktik populer pada beberapa kasus kajian. Jika melihat lebih jauh bagaimana para feminis gelombang kedua, feminitas dipandang sebagai dasar untuk memahami penindasan yang dialami perempuan. Bagi para feminis, untuk menjadi feminisme, perempuan di ‘kolonisasikan’ oleh Patriaki dan menjadi terimplikasi dalam penindasan yang mereka alami sendiri.
berbagai gerakan feminism mainstream yang muncul di Indonesia memiliki berbagai persoalan dimana hal itu membuat pengikutnya babak belur karena tawaran absurd dari para aktivisnya. Belum lagi dengan kemunculan posfeminisme, sebuah istilah yang disebut oleh salah seorang kritikus feminis, Judith Stacey, sebagai troubling term, adalah wacana yang tampaknya cukup memancing debat dan sekaligus provokatif untuk diperbincangkan. Berdasarkan hal inilah Caroline Ramazanoglu menawarkan definisi sementara tentang feminisme, yaitu pelbagai macam teori sosial yang menjabarkan hubungan antar jenis kelamin dalam masyarakat dan perbedaan antara pengalaman – pengalaman yang yang dialami laki-laki dan perempuan.
Perbedaan antara jenis kelamin dan gender sangat penting untuk memahami proses ini. Peran gender maskulin dan feminim yang terbentuk secara budaya diperdebatkan, dipetakan dalam pembedaan biologis antara laki-laki dan perempuan yang melahirkan anak tapi bukan berarti perempuan secara alamiah mempunyai sifat-sifat feminim. Salah satu respon terhadap pertanyaan mengenai bagaimana feminisme diposisikan oleh media ada dalam tesis ‘backlash’. Eksponen terkenal ini, Susan Faludi (1992), menyatakan bahwa pada tahun 1980 an, terjadi ‘backlash’ terhadap feminisme di Amerika dan Inggris. Menurutnya ‘backlash’ menyatakan bahwa persamaan hak untuk perempuan yang di perjuangkan oleh para feminis, telah menyengsarakan perempuan.
Lahirnya Posfeminisme
Penelusuran seputar istilah ini dan menyelami literatur yang berhubungan dengan posfeminisme semakin menunjukkan betapa beragamnya pengertian posfeminisme dan betapa masih sedikit buku atau esai yang membahas secara khusus mengenai seluk beluk wacana posfeminisme dan kaitannya dengan dunia feminisme. Posfeminisme sendiri di Indonesia terlampau asing, gerapan perempuan memasuki abad ke 21 yang terus menerus merespons kenyataan sosial zamannya dalam keinginan untuk bergerak melampaui kesadaran dan pendirian yang dipegang oleh para feminis sebelumnya.
Klaim yang terjadi selama ini gerakan perempuan telah berupaya untuk menciptakan perubahan dalam kehidupan perempuan. Gelombang pertama feminisme di AS, misalnya, telah timbul dari pergulatan gerakan abolisionis di tahun 1830an dan memuncak selama era reformasi sosial di tahun 1890an dan gerakan kontemporer mencuat dari ketidakpuasan sosial umum di tahun 1960an.
Upaya meningkatkan kredibilitas feminisme dengan hadirnya posfeminisme yang memang bagian dari tanggapan untuk menghilangkan kelemahan dan kegagalan yang dialami feminisme sebelumnya. Tendensi macam feminisme maupun posfeminisme ini memang harus disikapi secara antipati. Posfeminisme sendiri hanya sebagai pengalihan isu. Dari setiap gerakan tersebut nyatanya tidak menghasilkan apapun, terkesan membuang buang waktu, belum lagi fatwa politis yang selama ini menjadi biang keladi dalam pergerakan tidak masuk akal dan tidak manusiawi sampai melahirkan gerakan penerimaan terhadap kaum gay. Konsep dan strategi yang ditawarkan belum tentu bisa memenuhi hajat hidup orang banyak, apalagi gaya hidup homo yang hewan pun tidak sudi mengakuinya.
Muara Gerakan Feminisme
Mitologi Yunani tidak lepas sebagai kiblat dari gerakan Feminisme di dunia Barat. Pada masa itu martabat perempuan memang tertindas dan teraniaya, bayangkan satu pria memiliki 12 pasangan. Jual beli perempuan terjadi di pinggir jalan, mereka disejajarkan seperti barang dagangan. Parahnya lagi ‘’dagangan” itu tidak dibungkus alias tanpa busana. Secara empiris apa yang dialami perempuan waktu itu menjadi cerminan traumatis bagi perempuan masa kini. Wajar apabila perempuan melakukan pemberontakan, kemudian gerakan feminisme ini berkembang menjadi berbagai macam madzhab seperti feminisme sosialis, radikal sampai liberal. Feminisme sosialis sendiri menitikberatkan pada pendidikan agenda keluarga atas konsep borjuis yang dinisbatkan kepada pria dan proletar untuk perempuan.
Kemudian gerakan ini semakin populer dan mulai menjadi bahasan tersendiri yang dikaji oleh para akademisi termasuk di Indonesia. Seperti halnya didirikannya Pusat Studi Wanita di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan akan terus bergerak menjadi mata kuliah yang diprogramkan oleh kampus di seluruh Indonesia. Gerakan feminisme akan terus menuntut hak agar diakui sebagai gerakan kultural yang normal dan manusiawi sampai kesetaraan pria maupun wanita dalam menjalani kehidupan berdasarkan pada takaran yang menyalahi kodratnya sebagai manusia sejati sebagaimana yang mereka inginkan, meski hal ini tidak bisa dibenarkan. /*Bramastyo Dhieka Anugerah


